Aji Rendra Gunawan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
TOLONG MEREKA

TOLONG MEREKA

Akhir akhir ini sering kita dikagetkan dengan berita-berita yang viral di media sosial. Ada sebagian masyarakat yang terhibur, merasa miris, prihatin ataupun acuh. Kebiasaan mengunggah berita ataupun video sudah menjadi hal biasa di masyarakat kita. Kebanyakan dari berita – berita yang di unggah netizen merupakan video yang kurang mendidik dan seharusnya tidak layak dilihat oleh anak-anak kita. Pengaruh perkembangan teknologi yang begitu pesat dapat dengan mudah kita mendapatkan informasi dalam hitungan menit. Tak heran mulai dari anak TK,SD,PAUD sampai orang tua pun tidak lepas dari yang namanya smart phone. Kepiawaian anak-anak dalam mengakeses internet mulai dari mendownload, upload dan share video membuat mereka menjadi tahu sebelum umurnya , dewasa sebelum waktunya. Indonesia termasuk negara yang paling banyak jumlah penduduknya yang mengakses internet.

Data riset pasar e Marketer tahun 2017 memperkirakan netter Indonesia mencapai 112 juta orang, angka yang fantastis untuk Negara berkembang mengalahkan jepang, dan di tahun 2018 kemungkinan akan naik 5-10%. keadaaan ini membuat Negara kita menjadi salah satu target pasar elektronik khususnya smartphone terbesar di asia . Kita pun sadar bahwa perkembangan teknologi secara global ini tidak mungkin kita cegah. Pengaruh ini secara tidak langsung mengubah cara hidup, pola pikir, pola asuh anak dan karakter generasi kita. Dengan melihat fenomena seperti ini, besar kemungkinan anak kita akan mendapat masalah baru. Dunia maya kerap menjadi pelarian diri anak dari dunia nyatanya yang seharusnya mereka mendapat perhatian dari keluarga, sekolah dan lingkungannya. Mereka lebih asyik bermain dengan temannya di dunia maya ketimbang teman sebayanya di rumah atau di sekolah. Padahal mereka belum tau seluk beluk keluarga, sifat dan karakternya, yang dia tau hanyalah foto yang dipajang di media sosialnya, entah itu fotonya sendiri atau foto orang lain yang mereka pakai untuk menarik perhatian. Cerita demi cerita yang terungkap mempertegas bahwa kasus kejahatan yang terjadi pada anak sangat kompleks dan beragam motifnya disebarkan melalui media sosial serta menjadi alat yang paling mudah bagi para pelaku untuk memudahkan aksinya dengan bermodal ponsel pintar dan akses internet di tangan. Perlahan dan tidak sadar akan terbawa adiksi dunia maya serta bahaya yang mengintai mereka.

Pornografi, sebuah kata yang menjadi momok bagi orang tua dan para pendidik karena khawatir akan keselamatan dan masa depan mereka. Cukup dengan mengakses sebuah website dan menuliskan istilah atau kata-kata akan muncul materi pornografi. Meskipun kementerian komunikasi dan informatika telah memblokir ratusan ribu situs-situs pornografi, namun tidak dapat memblokir seluruhnya. Pornografi pada umumnya adalah tulisan, gambar, foto, sketsa atau produk audio visual yang dapat merangsang nafsu seksual pada pembaca dan penontonnya. Pornografi merupakan salah satu permasalahan yang sangat serius yang dihadapi oleh bangsa kita bahkan masyarakat dunia. Peredaran materi pornografi mengalami peningkatan, baik dari sisi jumlah maupun jenis medianya dan bahaya yang sangat fatal yaitu bisa menimbulkan kecanduan serta merusak otak. Pakar adiksi pornografi dari amerika serikat, dr.mark b dalam artikelnya menyebutkan kecanduan pornografi menimbulkan dampak kerusakan otak yang lebih besar daridampak yang ditimbulkan oleh kecanduan narkoba. Pada kecanduan narkoba terdapat tiga bagian otak mengalami kerusakan. Sedangkan kecanduan pornografi menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada wilayah pre frontal cortex (bagian otak yang berada di belakang dahi). Kerusakan di bagian ini akan menyebabkan prestasi akademik menurun, tidak bisa membuat perencanaan, mudah emosi dan sulit mengambil keputusan. Nah apa yang terjadi jika menimpa pada generasi muda kita/mungkin bapak /ibu pembaca sudah tahu jawabannya.

Permasalahan yang didapat anak tidak terputus sampai disini saja. Permasalahan tersebut cenderung menular ke bentuk permasalahan lain seperti perkelahian pelajar. Sifat dan karakter anak pubertas sangatlah agresif, membentuk kelompok yang merasa senasib, mencari jati diri dan ingin dikenal. Beberapa bulan yang lalu media dihebohkan dengan rekaman cctv salaha satu geng motor yang menjarah toko pakaian. Mirisnya mereka menjarah tanpa rasa ada rasa takut sama sekali bahkan di tengah keramaian, dan yang paling menyayangkan otak dibalik tindakan anarkis tersebut yakni remaja berusia 18 tahun. Tak kalah heboh, seminggu yang lalu beredar kabar di salah satu kabupaten di Jawa Tengah, seorang pelajar meninngal dunia karena dikeroyok siswa dari sekolah tetangga. Sangat disayangkan kejadian ini dipicu karena masalah sepele, saling tatap dan berlanjut saling ejek. Tidak terima dengan ejekan tersebut keesokan harinya mereka membawa temannya untuk mengeroyok korban. Perilaku agresifitas negativ ini didasari oleh solidaritas keremajaan dalam rangka menunjukkan jati diri tanpa memperhatikan norma, aturan, dan kaidah agama. Kemanakah orang tua mereka hingga menjadi seperti itu? Salah siapa ini? Tidak akan selesai permasalahan kalau saling lempar masalah, tolong,,tolonglah mereka.

Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu dalam melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Artinya ada keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang, apalagi pelajar yang secara emosi dan psikisnya masih dalam perkembangan menuju kematangan. keluarga yang dipenuhi kekerasan jelas berdampak pada anak. anak, ketika meningkat remaja, belajar melakukan kekerasan pula. Begitu juga sebaliknya,orang tua yang terlalu melindungi anaknya ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, akan menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarnya. Lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan diluar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, dimana guru jelas memainkan peranan yang sangat penting. Dalam peribahasa jawa guru berarti “digugu lan ditiru”. Makna ini sangat mendasar bahwa guru punya tanggung jawab yang besar selain mengajar. Tingkah laku di dalam maupun diluar sekolah akan mereka tiru sebagai duplikat karakter siswanya. Pemerintah rupanya serius dalam menangani krisis moral tersebut dan kebijakan pemerintah dalam menyikapi masalah ini mulai diterapkan dalam kurikulum 2013. Kemanakah kita selama ini?sekali lagi mari kita tolong mereka, bimbing mereka, arahkan mereka, didik mereka dengan tulus demi menyelamatkan masa depan generasi bangsa kita.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali